WASPADA! Bakteri Yersinia Pestis Pembunuh Terbesar Dalam Kematian Hitam


Peran Yersinia Pestis Dalam Sejarah

Yersinia pestis ditemukan pada 1894 oleh Alexandre Yersin, seorang dokter Swiss/Perancis dan bakteriologis Institut Pasteur, pada saat epidemik plak di Hong Kong. Kitasato Shibasaburo, seorang bakteriologis Jepang yang belajar di Jerman juga menemukan agen plak. Namun, Yersin yang menyangkutkan plak dengan Y. pestis. Awalnya bakteri ini bernama Pasteurella pestis, namun diganti namanya pada 1967.

Dalam Beberapa artkel
Epidemik yang merenggut banyak korban dalam sejarah manusia, termasuk Plak Justinian pada 542 dan Kematian Hitam yang menyebabkan paling tidak mengambil sepertiga populasi Eropa dari 1347 sampai 1353. Belakangan ini, Yersinia Pestis juga dapat digunakan sebagai senjata biologi dan CDC telah mengklasifikasi bakteri ini ke dalam Patogen Kategori A sebagai persiapan serangan teroris.(AFP)
.
Sebuah riset yang dilakukan oleh periset internasional pada Oktober 2010 mengkonfirmasi bahwa Y.
pestis adalah penyebab Kematian Hitam dan epidemik berikutnya pada benua Eropa selama periode 400 tahun. Tim tersebut DNA kuno dan protein yang diambil dari jasad korban plak yang dikubur di Hereford, Inggris, di Saint Laurentde la Cabrerisse di Prancis, dan Bergen op Zoom di Belanda untuk mengidentifikasi patogen.(reuter).

Sebuah tim ilmuwan Jerman dan Kanada telah memastikan bakteri penyebab wabah "Kematian Hitam" (The Black Death) yang terjadi sekitar 600 tahun lalu. Wabah yang menyebabkan sepertiga warga Eropa tewas pada tahun 1348-1353 itu adalah bakteri Yersinia pestis.(cnn) 

Kematian 75 juta orang Eropa tersebut disebut "Kematian Hitam" karena kulit korban yang menghitam akibat pendarahan di bawah kulit (subdermal). Setelah sebelumnya masih diragukan oleh sejumlah kalangan bahwa kematian disebabkan bakteri Yersinia pestis, ilmuwan dari University of Tubingen Jerman dan Universitas McMaster Kanada telah mampu mengonfirmasi bahwa Yersinia pestis berada di balik wabah besar yang terkenal dalam sejarah tersebut sebagai "Great Mortality" atau Mortalitas Besar.

Hasil penelitian itu, seperti disiarkan Science Daily, Senin (29/8/2011) atau Selasa (30/8/2011) WIB, diterbitkan dalam Prosiding National Academy of Sciences. Tim peneliti internasional tersebut untuk pertama kalinya telah mampu memecahkan kode genom melingkar penting untuk menjelaskan virulensi atau tingkat keganasan bakteri Yersinia pestis. Hal ini disebut pPCP1 plasmid dan terdiri dari sekitar 10.000 posisi dalam DNA bakteri.

Sampel diambil dari kerangka sebuah pekuburan korban wabah di London, Inggris. Kelompok kerja di Tubingen dipimpin oleh Dr Johannes Krause menggunakan teknik baru "memancing molekul" dari enamel gigi dan sekuensing dengan menggunakan teknologi terbaru.

Dengan cara ini, fragmen yang terhubung ke dalam urutan genom panjang ternyata identik dengan bakteri patogen penyebab wabah. "Itu menunjukkan bahwa setidaknya hal ini bagian dari informasi genetik yang hampir tidak berubah dalam 600 tahun terakhir," kata Krause.

Para peneliti juga mampu menunjukkan bahwa DNA korban wabah dari pemakaman di London
memang berasal dari abad pertengahan. Untuk melakukan itu, mereka memeriksa kerusakan pada DNA yang hanya terjadi dalam DNA tua.

"Tanpa diragukan lagi, wabah patogen dikenal hari ini sebagai Yersinia pestis juga penyebab wabah di abad pertengahan," kata Krause.( Science Daily)


Keluarga Yersinia Pestis

Klasifikasi Ilmiah

Domain           : Bakteri
Phylum            : Proteobacteria
Ordo                : Enterobacterials
Famili              : Enterobacteriacheae
Genus              : Yersinia
Spesies            : Yersinia Pestis

Morfologi dan Habitatnya, Bakteri Yersinia pestis merupakan bakteri gram negatif yang dapat tumbuh dengan atau tanpa oksigen, dengan bentuk bipolar yang mencolok dengan pewarnaan khusus. Organisme ini tumbuh sebagai anaerob fakultatif, pertumbuhan bakteri ini lebih cepat bila berada pada media yang mengandung darah atau cairan jaringan bagian dalam dengan suhu cairan 300oC. sedangkan pada kultur darah suhunya 370oC.

Bakteri ini menyebabkan penyakit yang menular dan dapat mengakibatkan kematian disebut juga
sebagai penyakit pes (Marisa, 20017). Pes merupakan salah satu penyakit yang hebat dan sangat menular dengan angka kematian yang tinggi yang ditularkan lewat tikus (yang digigit pinjal yang terinfeksi). Pes disebut juga sebagai black death karena salah satu gejala penyakit ini adalah kehitaman pada ujung-ujung jari dan tingkat kematiannya yang tinggi.

Yersinia pestis sebelumnya telah diklasifikasikan dalam keluarga Pasteurellaceae, namun berdasarkan kesamaan dengan Escherichia coli (E. coli), maka Yersinia grup reclassified sebagai anggota dari keluarga Enterobacteriaceae.

Walaupun terdapat 11 nama spesies dalam genus Yersinia, hanya tiga patogen yang dianggap penting bagi manusia:

•    Yersinia pestis
•    Yersinia pseudotuberculosis
•    Yersinia enterocolitica.

Yersinia pseudotuberculosis adalah yang paling dekat dengan genetika Yersinia pestis, tetapi dapat dibedakan dari Yersinia pestis oleh gejala-gejala itu penyebab dan hasil uji laboratorium. Baik bakteri ini sering menjangkiti manusia, kontras ke Yersinia enterocolitica, yang menyumbang 1 sampai 3 persen dari kasus diare yang disebabkan oleh bakteri.

Yersinia Pestis di Binatang
Yersinia pestis paling sering ditemukan pada tikus, tetapi kadang-kadang dalam hewan lainnya, seperti:
• Tikus (Mice)
• Squirrels
• Kutu
• Kucing
• Anjing
• Tikus kayu
•  Chipmunks.


Yersinia pestis adalah bakteri yang menyebabkan gangguan Infeksi pada manusia mengambil tiga bentuk: pnumonik, septisemik, dan bubonik plak.

Yersinia pestis termasuk bakteri Gram-negatif yang dapat tumbuh dengan atau tanpa oksigen.

Yersinia Pestis sebelumnya telah diklasifikasikan dalam keluarga Pasteurellaceae, Namun berdasarkan kesamaan dengan Escherichia coli (E. coli), maka Yersinia termasuk dalam keluarga Enterobacteriaceae.

Penyakit pes, adalah infeksi yang disebabkan bakteri Yersinia pestis (Y. pestis) dan ditularkan oleh kutu tikus (flea), Xenopsylla cheopis. Selain jenis kutu tersebut, penyakit ini juga ditularkan oleh kutu jenis lain.

Di Indonesia dan negara2 Asia Tenggara kutu carrier plague adalah Xenophylla astia. Penyakit ini
menular lewat gigitan kutu tikus, gigitan/cakaran binatang yang terinfeksi plague, dan kontak dengan tubuh binatang yang terinfeksi. Kutu yang terinfeksi dapat membawa bakteri ini sampai berbulan2 lamanya. Selain itu pada kasus pneumonic plague, penularan terjadi dari dari percikan air liur penderita yang terbawa oleh udara.

Yersinia pestis awalnya menginfeksi dan menyebar ke hewan pengerat rumah misalnya tikus. Tikus
merupakan reservoir dan pinjal merupakan vector penularnya, se­hingga penularan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan pinjal atau kontak langsung dengan tikus yang terinfeksi bakteri Yersinia pestis (Jawetz, 2005). Pada manusia juga dapat terinfeksi karena gigitan pinjal atau dengan kontak vector. Menurut Profesor Duncan, gejala The Black Death ditandai dengan gejala demam mendadak, nyeri, perdarahan organ dalam, dan efusi darah ke kulit yang menimbulkan bercak-bercak di kulit, khususnya sekitar dada dan ujung- ujung jari. Setelah terinfeksi selama 2- 7 hari maka kulit yang terinfeksi bakteri Yersinia Pestis akan menjadi hitam. Bakteri ini sangat tinggi angka kematiannya hingga 50 %. Sehingga disebut juga black death.

Setelah sebelumnya masih diragukan oleh sejumlah kalangan bahwa kematian disebabkan bakteri Yersinia pestis, ilmuwan dari University of Tubingen Jerman dan Universitas McMaster Kanada telah mampu mengonfirmasi bahwa Yersinia pestis berada di balik wabah besar yang terkenal dalam sejarah tersebut sebagai "Great Mortality" atau Mortalitas Besar.

Dasar kelainan : reaksi radang, endo dan eksotoksin

I. Diagnosis
Masa inkubasi 2-8 hari.

A. Keluhan pokok
* Nyeri di daerah inguinal
* Demam tiba-tiba, kadang-kadang sampai delirium
* Mialgi berat
* Menggigil
* Ada riwayat terpapar tikus

B. Tanda penting

Tergantung dari bentuknya

1. Bentuk bubonik
- Bubo atau pembesaran kelnjar limfe terutama daerah inguinal dan femoral

2.    Bentuk septikemik
- Pucat
- Lemah sampai koma

3. Bentuk pneumonik
- Batuk-batuk
- Sesak nafas dengan sputum yang cair

4. Bentuk meningeal
- Sefalgi
- Kaku kuduk
- Kernig’ sign positif
- Kejang sampai koma

C. Pemeriksaan Laboratorium

* Biarkan aspirat nodul limfe/darah
* Hapusan aspirat bubo ditemukan basil Gram negatif
* Titer antibodi
* Lekosistosis sampai memberi gambaran reaksi lekomoid (100.000/mm3)
* Ada tanda PIM/DIC.

D. Pemeriksaan khusus

II. Komplikasi

III. Penatalaksanaan

A. Terapi umum

1. Istirahat
    #Bentuk pneumonik perlu diisolasi

2. Diet

3. Medikamentosa
    #Obat pertama
+Streptomisin IM 30 mg/kg BB/hari, 3-4 kali/hari suntikan pertama 1 gr.

+Obat alternatif
*Tetrasiklin sebagai lanjutan/bersama-sama dengan streptomisin. Dosis 30 mg/kg BB
*Kloramfenikol : 50 – 75 mg/kg BB selama 10 hari
*Trimetoprim-sulfametoksazol 2 x 2 tablet
*Sulfadiazin
*Terapi komplikasi

IV. Prognosis

*Mortalitas tergantung dari tipe dan terapi antibiotik
*Tipe pneumonik, septikemik dan meningeal hampir 100%
*Tipe bubonik 50-90%.

Pencegahan

Berdasarkan penelitian Sitti chodijah dkk, melalui partisipasi masyarakat diharapkan juga dapat meningkatkan jumlah tikus yang tertangkap. Dalam pemasangan alat trapping (live trap), Ibu merupakan anggota ke­luarga yang dianggap mengerti kondisi rumah, karena ibu yang biasa membersihkan rumah, sehingga mengetahui tanda keberadaan tikus (jejak tikus, kotoran tikus, jalan tikus, bekas gigitan tikus, dan bau khas tikus) dan dapat meletakkan trap sesuai tempatnya (Dwi S, 2008 dan Ikawati, 2010).

Untuk pengendalian pes dibutuhkan penelitian pada hewan yang terinfeksi, serta semua pasien yang dicurigai menderita pes harus diisolasi, dengan memberikan vaksin protein rekombinan yang terdiri dari Yersinia pestis F1 (protein kapsul) dan antigen V. sejauh ini sangat menjanjikan dalam melindungi hewan terhadap infeksi penyakit pes.

Oleh karena itu, untuk meminimalisasi kasus pes, perlu usaha masyarakat juga dalam menjaga sanitasi dan higienitas lingkungannya.

Daftar Pustaka

-Marisa, Dolhnikoff. 2007. Pathology and Patho­physiology of Pulmonary Manifestations In Leptospirosis.    The Brazilian Journal of Infec­tious Disease, 11(1): 142-148

-Jawetz, Melnick dan Adelbergs. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Salemba Medika
Sub Direktorat Zoonosis. 2000. Pedoman Penang­gulangan Pes di Indonesia. Jakarta: Departe­men Kesehatan RI.

-Uwe, Grob and Kerstin, Wydra. 2013. Materal-Child Health. Gottingen International Health Network.   

-Bhisma, Murti. “Sejarah Epidemiologi”. Jounal Institute Of Health Economic And Policy Studies (IHEPS). 

-Sitti Chodijah dkk, 2011. Peningkatan Peranserta Masyarakat Dalam Pelaksanaan Pemberan­tasan Sarang Nyamuk Dbd (Psn-Dbd) Di Dua Kelurahan Di Kota Palu, Sulawesi Ten­gah. Ejournal Litbang Depkes 21(4)

-Ikawati Bina, Nurjazuli. 2010. Analisis Karakteristik Lingkunagn Pada Kejadian Leptospirosis di Kabupaten Demak Jawa Tengah Tahun 2009. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 9(1): 33 - 40
pestis adalah penyebab Kematian Hitam dan epidemik berikutnya pada benua Eropa selama periode 400 tahun. Tim tersebut DNA kuno dan protein yang diambil dari jasad korban plak yang dikubur di Hereford, Inggris, di Saint Laurentde la Cabrerisse di Prancis, dan Bergen op Zoom di Belanda untuk mengidentifikasi patogen.(reuter)

-Sumber media: AFP, CNN, REUTER, Science Daily, BBC

Sumber Resmi :Ganpost.blogspot.co.id
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Jurnalistsumbar.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Falsanar Piliang